Si Jahat itu Miskin Bantuan

Si Jahat itu Miskin Bantuan

Sejauh mana balita siap membantu? Sebuah studi dilakukan oleh divisi evolusi antropologi Max-Planck-Institut di Leipzig dan dimuat di jurnal terkenal “Child Development”. Ketua tim periset, Dr. Amrisha Vaish meminta beberapa pemain film memerankan beberapa skenario. Respondennya adalah 100 balita yang berusia di kisaran 3 tahun.

Keempat skenario dalam riset tersebut adalah:

(1)  KETULUSAN MEMBANTU.
Seseorang menyambung lagi sehelai gambar yang dirobek orang lain.
(2)  SIKAP MERUSAK.
Seseorang merobek sehelai gambar milik orang lain.
(3)  BERMAKSUD MERUSAK.
Seseorang ingin merobek sehelai gambar milik orang lain. Tetapi tidak  berhasil.
(4)  MERUSAK TANPA SENGAJA.
Seseorang secara tidak sengaja merobek sehelai gambar milik orang lain.

Skenario itu lalu disusul adegan berikutnya, di mana para responden (100 balita usai 3 tahun) diminta membantu untuk memberikan sobekan gambar. Di sinilah diukur kesiapan mereka untuk menolong.

Hasilnya?
Pada skenario (2) mereka tidak membantu orang yang jelas-jelas tindakannya destruktif. Demikian pula pada skenario (3). Hanya 22% yang tampak akan membantu. Dengan keraguan. Sebaliknya pada skenario (1) dan (4). Tampak nyata betapa hampir semua balita (61%) siap menolong pemain film untuk menyambung kembali bagian gambar yang robek.

Riset itu menunjukkan, demikian ujar Dr.Vaish, bahwa balita pun merupakan manusia yang peka moralnya. Mereka sudah mampu membedakan orang jahat dan baik. Studi juga membuktikan, bahwa balita punya pengertian tentang sikap moral. Bahkan maksud buruk yang terkandung dalam perbuatan seperti pada skenario (4).

Ini membuktikan pula, bahwa kita semua memang berasal dari Yang Maha Baik. Karena itu kita punya sifat-sifat Ilahi, yang dengan berjalannya sang waktu, tercemar oleh desah kejahatan.

Leave a reply

error: Content is protected !!