Buku Tetap Diperlukan

Buku Tetap Diperlukan

Internet sudah menjadi sarana proses belajar (tidak hanya bagi) kaum muda. Namun pengetahuan mendasar tidak dapat dibangun hanya dari internet. Dr. Yifat Ben-David Kolikant dan timnya dari Universitas Jerusalem meneliti, apakah belajar itu lebih gampang dengan adanya internet. Bagaimana internet dimanfaatkan para siswa? Fakta: begitu mudahnya mendapat berbagai macam data dan informasi dari jaringan komputer terbesar di dunia. Apakah dengan internet para siswa jadi sangat terbantu? Hasil riset Dr. Kolikant sangat mengagetkan para pendidik!

Dewasa ini hampir setiap sekolah sudah terhubung dengan internet. Para guru dan orang tua sangat mendukung hal tersebut, sebab begitu banyaknya data dan informasi yang dapat diunduh dari internet. Plus segala konsekuensinya, ibarat pedang bermata dua. Pengetahuan yang baik dan jahat dapat diperoleh dengan cepat. Para siswa menggunakan internet sebagai sarana komunikasi. Termasuk aktivitas saat senggang dan pembantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Mereka menemukan betapa praktisnya internet, yang mampu memotivasi orang karena gampangnya mendapat informasi. Tampilannya pun memikat secara optis. Pengetahuan dari internet itu cepat didapat dan tidak menjemukan. Sebaliknya pengetahuan yang tercetak di sebuah buku itu terlalu menyita waktu untuk membacanya, membosankan, ruwet, dan sulit dipahami. Benarkah demikian?

Internet Versus Buku

Namun hasil studi Dr.Kolikant dan timnya malah menemukan hal yang di luar ekspektasi kita semua. Lebih dari 68% responden mengakui, bahwa mereka belajar tidak lebih cepat atau lebih baik dibandingkan generasi siswa saat belum memakai internet. Sebagai dasar jawabannya, siswa menyatakan bahwa sekolah masih memakai buku sebagai alat utama proses belajar-mengajar. Pemahaman komputer tidak berguna dalam mayoritas mata ajaran. Internet malah membuat siswa seolah ada di zona nyaman. Internet menjadikan mereka tidak menganggap belajar sebagai kegiatan serius.

Menurut para siswa, belajar yang benar itu intensif tenggelam dalam materi ajaran, mendalaminya dan yang bakal berguna untuk mengatasi halangan. Internet membuat siswa sangat gampang memperoleh materi yang dapat dipilih sendiri, yaitu yang ringan-ringan dan yang paling mudah dimengerti. Internet menggiring siswa untuk mengabaikan materi sains yang kompleks dan membelokkan mereka ke tema lain, seperti chatting, main game, atau browsing.

Logis dan manusiawi jika para siswa akan mengikuti jalan yang rintangannya paling minimal.

Para siswa berpendapat, bahwa dulu itu yang namanya informasi harus diperoleh dari buku dengan upaya keras. Sekarang mereka cuma butuh searching-engine (mesin pencari) tertentu jika ada pertanyaan. Informasi yang diperoleh dengan cara gampang demikian akan mudah dilupakan dan tidak akan dipahami secara benar. Cuma kulitnya saja. Suatu pembelajaran mendasar yang bisa tahan bertahun-tahun dan mendarah daging, tidak dapat dibangun dengan cara seperti itu. Kendati internet sudah jadi kebutuhan dan tidak lagi dapat dilepaskan dari proses belajar, tetapi internet membuat yang namanya tantangan tidak ada lagi. Informasi di internet yang dipilih adalah yang ringan tak berbobot dan basis sainsnya kurang kuat.

Era Keemasan Siti Nurbaya dan Si Kuncung

Jika para ortu mau meluangkan waktu sejenak untuk mengintip isi tas sekolah anak mereka, lihatlah betapa banyak lembar fotocopy di situ. Begitu mudahnya menggandakan data dan informasi. Tak heran jika di masa sekarang para siswa tidak punya minat yang cukup untuk membaca buku. Tak ada hasrat untuk memahami dengan kritis. Tak punya keinginan untuk bersikap skepsis terhadap pengetahuan yang ada. Zaman saat para senior membaca dengan teliti karya sastra gemilang seperti “Siti Nurbaya” atau “Salah Asuhan” sudah lewat. Majalah anak-anak yang hebat seperti “Si Kuncung” pada zaman dahulu akan menjadi kenangan indah tak terlupakan. Itulah saat era keemasan kata dan ungkapan mempesona menjadi bunganya literatur kelas dunia. Yang namanya buku tetap akan menjadi barang yang tak bakal punah, kendati diprediksi oleh para ahli (IT) akan masuk museum. Tulisan yang tercetak di sebuah buku itu luar biasa. Lebih banyak detil. Lebih rinci dan serius. Lebih cantik.

Secara umum hasil studi tim periset menyimpulkan, bahwa internet bukanlah bantuan besar atau yang memudahkan siswa belajar. Internet malah jadi penghalang bagi hasil belajar yang tahan lama. Karena itu, dalam era digital, buku tetap akan dibutuhkan. Buku tidak bisa tergantikan oleh internet atau program pembelajaran berbantuan komputer apa pun. Buku tidak akan tamat riwayatnya. Penerbit dan toko buku akan senang membaca informasi ini.

Leave a reply

error: Content is protected !!