Suara Mayoritas Cenderung Keliru

Suara Mayoritas Cenderung Keliru

Pertanyaan sederhana di bawah ini sulit dijawab. Buktinya sampai dilakukan riset ilmiah untuk menguak sang jawaban. Dr. Shahzeen Attari di Center for Research on Environmental Decisions dari Columbia University dalam disertasinya telah meneliti, bagaimana orang menanggapi penggunaan energi dalam hidup sehari-hari. Antara lain dilakukan pertanyaan online terhadap 500 responden pilihan, bagaimana dan sejauh apa manusia normal dapat mengehemt energi paling efektif.

Berapa banyak yang bisa dihemat saat memakai lampu hemat energi dibanding lampu pijar konvensional?

Energi yang dipakai sebuah truk untuk mengangkut 1 ton material apakah lebih sedikit dibanding memakai kereta api?

Seberapa besar energi yang diperlukan untuk memproduksi satu gelas kaca dibanding dengan 1 kaleng aluminum?

Mana yang lebih efisien, AC-Split atau AC-Sentral?

Itulah beberapa tema disertasi Dr. Attari, ilmuwan cantik alumni Carnegie Mellon University. Tidak gampang menjawab berbagai pertanyaan di atas. Banyak ragamnya produksi berbasis ekologi, alat-alat efisien, atau kemungkinan sikap orang yang cenderung ok pada merek tertentu, menyulitkan jawaban yang tepat. Sandaran masyarakat luas umumnya tergantung informasi yang pernah didengar atau dilihat. Lewat iklan, yang jelas amat subyektif. Namun itulah yang tertancap pada pikiran masyarakat. Sejauh mana kebenarannya, ada di tempat lain atau jadi nomor ke sekian. Mayoritas dari kita hanya tahu, bahwa lampu hemat energi itu lebih efisien dibanding lampu pijar biasa. Lebih terang. Lebih tahan lama. Dan lebih mahal.

Apa saja cara Anda untuk menghemat energi?

Jawaban dari 55,2% responden (suara mayoritas):
(1)   Mematikan lampu jika tidak diperlukan, dan
(2)   mengurangi pemakaian mobil.

Hanya 11,7% yang menyatakan ini (suara minoritas):
(1)  Pengadaan alat yang efisien seperti lampu hemat energi, dan
(2)  menggunakan mobil hybrid.

Dari situ tampak betapa pandangan yang keliru masih memasyarakat. Ini juga menunjukkan kehebatan pemasang iklan. Mobil hybrid jelas lebih banyak menghemat energi ketimbang mengurangi pemakaian mobil. Lampu hemat energi kendati harganya lebih mahal namun efek akhirnya jelas lebih baik dibandingkan mematikan lampu jika tidak diperlukan. Suara mayoritas tidak selalu benar, malah cenderung lebih banyak salah. Celakanya yang namanya mayoritas malah marah jika diberitahu yang namanya kebenaran.  Mayoritas menganggap pendapat merekalah yang benar. Karena faktor mayoritas itu.

Kekeliruan yang Merajalela
Responden juga diminta menilai bermacam alat sehubungan dengan efisiensi energinya. Di sini tampak pula bermacam kekeliruan mayoritas. Misalnya: transpor memakai truk itu sama menghabiskan energi dengan pengangkutan via kereta api. Ini jelas-jelas salah. Yang benar: setiap ton barang yang diangkut truk akan menghabiskan energi 10 kali lipat ketimbang dengan kereta api.

Demikian pula dengan tematik seputar AC (Air Condition) alias pendingin ruangan. Mayoritas responden menganggap bahwa AC-Sentral paling banter membutuhkan 1,3 kali energi lebih banyak ketimbang AC-Split. Faktanya malah 3,5 kalinya. Penggunaan energi pada tindakan efisiensi justru dinilai terlalu rendah. Alat yang cuma sedikit menghemat energi dinilai terlalu tinggi. Pengetahuan masyarakat terburuk ada pada sarana yang berpotensi paling banyak untuk mereduksi kandungan karbondiokasida.

Kita bisa simak sendiri, betapa banyaknya kesalahan pada mayoritas jawaban atas pertanyaan sederhana. Bagaimana jika pertanyaannya dibuat sulit? Apakah jawabannya bakal lebih mudah? Atau menelorkan kekeliruan lebih besar? Atau timbul paradoks dengan kesalahan minimal? Padahal para responden adalah kalangan terdidik warga AS. Bisakah Anda bayangkan, jika respondennya adalah rakyat jelata yang agak kurang terdidik? Dari hampir 7 miliar manusia di dunia ini, lebih dari 70%-nya sangat tidak terdidik. Alangkah kacau-balaunya dunia ini. Sebetulnya.

Leave a reply

error: Content is protected !!