Lima Problem Terbesar Umat Bumi

Lima Problem Terbesar Umat Bumi

Tahun 2010 adalah kali ke-3 diselenggarakannya temu tahunan Global Economic Symposium, yang dihadiri oleh ratusan “think tank” internasional, politikus kelas dunia dan pemenang hadiah Nobel, para pengambil keputusan dalam bidang politik, bisnis, akademik, dan masyarakat sipil. Apa yang menjadi tantangan di planet bumi? Beban planet kita ini sudah melampaui batasan yang mampu dipikulnya. Kondisi alam kian tak menentu. Bencana demi bencana terus melanda dengan intensitas yang semakin dahsyat. Musim tidak lagi bisa dipastikan. Jika umat manusia tidak berhasil memecahkan problem tersebut, misalnya sumber energi, maka sepanjang 50 tahun ke depan lebih dari 70% manusia dipastikan akan tewas. Tahun 2060 populasi manusia bakal merosot drastis, tinggal sekitar 2 miliar saja.

Antara tanggal 4 dan 5 September 2008 berlangsung untuk pertama kalinya Global Economic Symposium di kota Plön, sebuah kota kecil Jerman dengan populasi 12 ribu. Simposium kedua diadakan pada tanggal 10 dan 11 September 2009 di kota yang sama. Simposium ke-3 berlangsung di kota Istanbul, Turki, pada tanggal 27 sampai 29 September 2010 silam.

Ada 5 problem terbesar yang mengancam keberlangsungan hidup kita.

1. Krisis Energi dan Pemanasan Global
Luar biasa memang keserakahan umat manusia dalam mengkonsumsi energi. Tetapi juga terjadi hal paradoks. Rakyat kecil harus menghemat energi dengan mematikan 2 lampu antara pukul sekian sampai sekian. Sebaliknya ribuan lampu gemerlapan di pusat-pusat perbelanjaan. Apa artinya daya listrik lampu 10 Watt dibandingkan dengan daya besar AC yang membuat ruang besar sedingin kutub? Lebih dari 80% semua pemakaian energi di seluruh dunia dihasilkan oleh gas dan minyak.

Industri harus dibuat tidak tergantung lagi pada 2 persoalan mendasar. Satu, minyak dan gas sebagai sumber daya alam akan semakin menipis. Dua, meningkatnya pertumbuhan ekonomi justru akan meningkatkan emisi karbon dioaksida.  Ini mempercepat perubahan iklim. Jika tidak diambil langkah-langkah cepat untuk menanggulangi hal itu, maka kita akan sampai pada suatu titik yang tak bisa kembali. Mirip dengan pesawat saat take-off. Ada suatu kecepatan kritis tertentu, di mana pesawat tidak bisa lagi dihentikan. Artinya, harus  ada tindakan yang mengurangi pemakaian minyak dan gas sebagai sumber energi. Antara lain dengan energi yang dihasilkan oleh panas matahari dan angin, misalnya. Harus dilakukan upaya yang sangat keras untuk mengganti minyak dengan sumber energi terbarukan.

Tantangannya sangat berat. Umat manusia harus tetap dimungkinkan untuk mencapai taraf hidup lebih baik, tercukupi oleh penyediaan sarana kesehatan. Bersamaan dengan itu juga harus diupayakan tindakan guna mengerem laju perubahan iklim. Merupakan tanda tanya sangat besar, apakah hal tersebut mungkin dilaksanakan.

2. Pejuang Tunggal Skala National
Berkali-kali telah diadakan konferensi internasional untuk memperbaiki kehidupan umat. Berkali-kali pula terjadi kegagalan demi kegagalan. Doha, Kyoto, dan Denpasar, misalnya, adalah kota tempat diselenggarakannya seminar tingkat dunia itu. Untuk perdagangan, cuaca, dan lainnya. Kendati beberapa kesepakatan telah dicapai, namun pelaksanaannya kemudian masih jauh dari harapan. Mengapa? Banyak wakil negara yang hanya mau ikut tanda tangan, jika implikasinya menguntungkan negara mereka. Suatu kewajiban untuk mereduksi tingkat karbondioksida bakal merugikan ekonomi kerakyatan. Pengurangan subsidi pertanian tidak disetujui karena akan melemahkan ekonomi petani dalam negeri. Hampir setiap negara tidak berpikir untuk kepentingan global, melainkan individual bagi keuntungan negara masing-masing. Sekalipun itu akan memperparah kondisi bumi.

3. Pertumbuhan Penduduk
Populasi dunia meningkat sangat cepat. Dua puluh tahun lagi jumlah umat manusia bakal melampaui 8 miliar. Para pakar internasional (dan kita pun sudah mampu) melihatnya. Ada keterbatasan sumber energi yang dibutuhkan untuk memberi makan dan minum makhluk hidup yang semakin banyak. Minimal 250 ribu bayi lahir setiap hari. Jauh lebih banyak ketimbang jumlah orang yang meninggal dunia karena berbagai sebab. Hanya ada 2 kemungkinan sepanjang 50 tahun ke depan. Pertama, populasi dunia akan maksimal tinggal 2 miliar. Atau kedua, penemuan-penemuan baru bidang teknologi dan pengetahuan, misalnya pemanfaatan sinar matahari semaksimal mungkin. Empat puluh menit cahaya matahari yang jatuh di bumi sudah mencukupi kebutuhan energi seluruh dunia selama 1 tahun.

4. Dominani Pria
Dari 192 negara di dunia, yang diakui PBB, hanya 12 negara yang dipimpin oleh wanita. Kurang dari 10%. Tidak hanya di negara miskin, di negara sudah maju pun masih terjadi diskriminani terhadap wanita. Misalnya di bidang pendidikan. Mayoritas posisi puncak perusahaan dan politik masih sangat didominasi pria. Penyamaan posisi wanita dan pria bakal meningkatkan potensi-potensi baru yang dahsyat, demikian kata Prof. Solveig Wikstroem dari Universitas Stockholm (Swedia). Dunia akan lebih damai jika lebih banyak perempuan duduk di lembaga pemerintahan. Wanita, terutama di negara berkembang, masih sangat menderita (tanpa mereka ini menyadari penindasannya). Mereka dihalangi untuk mengenyam pendidikan tinggi. Semakin tinggi pendidikan yang didapat oleh wanita, kian sedikit mereka akan mau mempunyai anak. Dominasi pria sekarang ini dialami oleh RRC gara-gara kebijakan satu anak satu keluarga. Bagi mayoritas orang Tionghoa, anak laki-laki lebih baik daripada anak perempuan. Karena itu mereka mengupayakan supaya anak yang hanya satu itu laki-laki. Pengguguran akan dilakukan seandainya diketahui si jabang bayi dalam kandungan berjenis kelamin wanita. Pria di RRC sudah kesulitan mendapat jodoh karena negara itu kini kekurangan wanita.

5. Krisis Finansial Global
Sampai saat ini dampak krisis perumahan di AS tahun 2008 masih dirasakan dunia. Diprediksi bahwa bakal terjadi krisis berikutnya yang lebih buruk. Kapan? Jawabannya: setiap saat bisa terjadi. Mengapa? Karena hutang negara-negara barat semakin besar. Ini selanjutnya memicu lonjakan tingkat inflasi secara dramatis.

Skenarionya begini: para investor di pasar modal akan kehilangan kepercayaan pada ekonomi negara-negara maju. Karena naiknya risiko, maka pemodal akan meminta jaminan lebih besar. Negara harus membayar bunga yang lebih tinggi jika mereka meminjam uang. Ini diatasi oleh negara dengan menjual surat utang negara. Mulailah terjadi lingkaran setan. Tidak hanya bunga yang kian tinggi, tetapi harga-harga bakal melambung pula. Hampir semuanya jadi mahal secara drastis. Sistem finansial global dapat ambruk karenanya. Ciri khas yang kasat mata: harga emas yang terus mengalami kenaikan. Namun, apakah kita menyadari hal itu? Karena masih sibuk dengan urusan sehari-hari?

Tahukah Anda bahwa di Wallstreet sekarang ini komputerlah (diberi nama Lagos) yang sebenarnya menguasai pasar modal internasional? Bukan lagi manusia? Transaksi berlangsung dalam hitungan milidetik. Miliaran dolar berpindah tangan dalam hitungan milidetik pula. Manusia tidak lagi mampu mengontrol kecepatan komputer. Bagaimana jika suatu saat Lagos melakukan kesalahan tanpa disadari oleh manusia? Kita betul-betul sedang berada di ujung tanduk. Namun, apakah kita menyadari hal tersebut? Karena masih sibuk dengan urusan isi perut dan korupsi?

Leave a reply

error: Content is protected !!