Rahasia Bebas dari Penyakit Jantung

Rahasia Bebas dari Penyakit Jantung

Dr. Stewart Wolf adalah dokter spesialis pencernaan dan dosen di University of Oklahoma, alumnus Cornell-New York Hospital. Suatu saat Dr.Wolf menghabiskan liburan musim panasnya pada sebuah pertanian di Pennsylvania, dekat desa Roseto. Di situ tinggal para emigran dari Itali. Nama Roseto diadopsi dari asal tempat tinggal mereka di Itali. Suatu sore Dr.Wolf menghadiri undangan rekan sesama dokter yang berkata demikian: “Aku sudah 17 tahun praktek di sini. Pasienku berasal dari mana-mana, tetapi di Roseto aku tidak menemukan adanya orang di bawah usia 65 tahun yang sakit jantung”. Wolf terperangah. Saat itu belum ada obat-obatan untuk mencegah kolesterol dan penyakit jantung. Di AS sendiri penyakit jantung merupakan penyakit rakyat dan penyebab utama kematian para pria di bawah umur 65 tahun.

Dr.Wolf memutuskan untuk meneliti soal yang aneh ini. Bersama para mahasiswa dan rekan-rekan dosen ia meneliti surat-surat kematian para penghuni Roseto. Berusaha mencari fakta sejauh mungkin ke masa lalu mengenai pohon keluarga dan sebab-sebab kematian. Selain itu mereka juga mengundang penduduk Roseto untuk diteliti golongan darah, kadar kolesterol, dan aspek kesehatan lainnya.

Hasilnya? Mengejutkan. Para pria di atas usia 65 tahun yang meninggal gara-gara penyakit jantung adalah 50% di bawah rata-rata negara bagian AS. Salah satu rekanan riset Wolf ialah Prof. John G.Bruhn, sosiolog di Northern Arizona University, menyatakan bahwa pada penduduk Roseto ia tidak menemukan kasus bunuh diri, alkoholik, dan narkoba. Bahkan nyaris tidak ada tindak kriminalitas di situ. Tak ada pula penduduk Roseto yang perlu bantuan dinas sosial. Tak ada yang terkena sakit lambung, yang umumnya diderita rakyat AS. Penyebab utama kematian penghuni desa Roseto adalah usia tua.

Riset Lanjut
Wolf meneliti lebih lanjut. Mungkin saja mereka bisa begitu karena budaya makan yang di bawah dari Itali. Tetapi nyatanya tidak demikian. Penghuni Roseto menggoreng makanan mereka dengan minyak babi. Bukan minyak zaitun seperti di Itali. Beda pula soal pizza. Di Roseto mereka membuat pizza dari tepung tebal, dilengkapi sosis babi, salami, dan telur matang. Sehari-hari mereka juga makan taralli dan biscotti, semacam biskuit kering yang manis, diiringi dengan kopi kental. Lebih dari 41% kalori mereka didapat dari lemak.

Tak ada penghuni Roseto yang praktek Yoga atau jalan dan lari pagi. Mereka adalah para perokok sejati. Bagi ahli hisab itu tiada jam tanpa asap. Banyak pula yang obesitas alias terlalu gemuk.

Wolf semakin heran. Gaya hidup yang seperti itu dan tidak ada yang terkena kolesterol atau penyakit jantung? Mungkin ada faktor genetika yang berperan besar? Wolf meneliti para emigran Itali di negara bagian lain yang berasal dari daerah yang sama. Ternyata catatan kesehatan keluarga atau sanak jauh itu pun tidak sama dengan mereka yang di Roseto. Wolf mencari penyebab lainnya. Mungkin faktor wilayah atau tanah di Roseto yang membuat penghuninya begitu. Ternyata tidak. Bahkan di desa-desa tetangga ada 3 kali lebih banyak pria usia di atas 65 tahun yang meninggal karena penyakit jantung. Buntu lagi.

Kesimpulannya: rahasia usia panjang tanpa penyakit para penduduk Roseto tidak terletak pada faktor genetika atau lingkungan. Harusnya rahasia itu ada pada penduduk Roseto itu sendiri. Wolf dan rekan periset lalu mengambil sebuah tempat hunian di Roseto. Mereka mengamati perilaku masyarakatnya dari dekat. Hari demi hari. Minggu demi minggu.

Inilah Rahasianya
Mereka memperhatikan, betapa para penghuni Roseto kerap saling berkunjung satu sama lain. Mereka ngobrol di jalan dengan bahasa Itali. Mereka mengundang sesama penghuni untuk bakar dan makan daging panggang di halaman. Sering di satu rumah dihuni oleh 3 sampai 4 generasi: kakek-nenek, ayah-ibu, dan anak-cucu. Makan tidak makan asalkan kumpul. Mereka amat menghormati orang yang lebih tua. Mereka taat beribadah di satu gereja katolik dan hidup damai dalam khotbah pastor yang penuh nuansa cinta kasih. Mereka punya 22 perkumpulan, padahal jumlah total populasi Roseto cuma 2000 orang.

Mereka merupakan komunitas egaliter, sehingga si kaya tidak perlu memamerkan kekayaannya dan simiskin tak usah malu dengan kepapaannya. Mereka membawa budaya “paesani” dari Itali bagian selatan dan dengan itu menciptakan suatu struktur sosial masyarakat yang stabil. Ini melindungi mereka dari beban dunia modern. Kaum wanita menjahit bersama saat para prianya pergi bekerja. Jika malam tiba, atau pada hari libur, 3 generasi duduk dan makan bersama. Saling cerita pengalaman masing-masing.

Leave a reply

error: Content is protected !!