Rumus Semesta atau Theory of Everything

Rumus Semesta atau Theory of Everything

Ini adalah suatu dalil universal yang menjelaskan keseluruhan jagad raya. Mulai dari partikel terkecil sampai bintang terbesar. Bagaimana menulis sebuah rumus seperti itu dalam sehelai kertas ukuran folio? Para fisikawan menyebutnya sebagai Theory of Everything. Teori tentang segala sesuatu. Rumus semesta. Albert Einstein belum berhasil mendapatkannya. Ribuan fisikawan kondang sampai Stephen Hawking pun belum mampu memecahkan rahasia terbesar ke-Ilahi-an ini. Adalah Prof. Lee Smolin, fisikawan alumnus Harvard University dan guru besar di “Perimeter Institute for Theoretical Physics” di Kanada, yang berhasil memecahkan rahasia paling rahasia di alam semesta kita ini. Namun Prof. Lee Smolin harus siap membela temuannya, berhadapan dengan ribuan fisikawan lain. Apa yang dimaksud dengan Theory of Everything? Bagaimana pula prinsip Yin-Yang bisa ada di dalamnya?

RUANG DAN WAKTU
Apakah ruang dan waktu? Itulah problem dari gravitasi kuantum. Albert Einstein membuka jalan bagi kita, lewat Teori Relativitasnya, tidak hanya Teori Gravitasi melainkan juga teori tentang ruang dan waktu. Kesulitan gravitasi kuantum adalah menyelaraskan pengertian yang diperoleh tentang ruang dan waktu dengan teori kuantum.

Belum genap satu minggu usia pernyataan Prof.Stephen Hawking,  fisikawan paling kondang di muka bumi, bahwa alam semesta ini tidak membutuhkan adanya Sang Pencipta. Tuhan tidak diperlukan bagi penciptaan jagad raya. Mengapa manusia sepintar Prof.Hawking bisa membuat pernyataan yang menjurus pada sikap ateisme tersebut? Karena dia antara lain belum berhasil menemukan Theory of Everything! Rahasia rumus semesta belum terungkap dan diakui dunia! Jika Rumus Semesta nanti sudah ditemukan, ini akan menjelaskan segalanya dan mampu menjawab berbagai pertanyaan radikal, nakal, dan kritis, semisal:

BAGAIMANA MENGETAHUI MASA DEPAN?
BAGAIMANA DAN APA ALAM SEMESTA INI SEBELUM DICIPTAKAN?
KE MANA DAN APA TUJUAN CIPTAAN INI?
DARI MANA KITA BERASAL DAN APA TUJUAN HIDUP?
APA DAN BAGAIMANA MENGUBAH NASIB DAN TAKDIR?

Marilah kita simak bersama segala sesuatu tentang jerih-payah Prof. Lee Smolin, yang dianggap oleh sementara kalangan ilmuwan sebagai calon penemu The Theory of Everyhing. Semoga hari mendebarkan Anda betambah satu lagi!

Ungkapan Theory of Everything (Rumus Semesta) diartikan sebagai penjabaran tak terbantahkan tentang penulisan dan prediksi fenomena yang diamati di alam raya dalam sebuah rumus yang paling sederhana. Dengan rumus ini akan dapat dijelaskan dengan mudah, apa saja yang terjadi di jagad raya. Bagaimana kita bisa memahami saat lahirnya alam semesta (big bang alias dentuman besar) dan kapan dia ini kiamat. Para kolega Prof. Smolin punya pendapat, bahwa dia ini sedang menekuni apa yang disebut sebagai Gravitasi Kuantum.

TEORI GRAVITASI KUANTUM
Sejak 80 tahun ada masalah besar di dunia fisika. Sebab ada 2 teori yang menggambarkan dunia kita. Teori yang satu adalah Teori Relativitas Umum buah karya Albert Einstein. Teori ini sesungguhnya amat hebat jika berkaitan dengan benda besar seperti bintang dan luar angkasa. Teori lainnya adalah Teori Mekanika Kuantum yang sebaliknya merupakan jurus ampuh untuk menjelaskan dunia maha kecil seperti  atom, partikel, quark,  dan infrastrukturnya. Para fisikawan berjuang keras untuk menemukan Theory of Everything alias Rumus Semesta yang menyatukan keduanya. Beberapa generasi fisikawan hebat seperti Einstein atau Hawking belum berhasil menemukan Rumus Semesta. Prof. Smolin sendiri menamakan maha karyanya sebagai Teori Loop Quantum Gravity (Gravitasi Kuantum).

Melalui teori ini ruang ditulis sebagai jaringan berputar dengan sifat dinamis dan selaras dengan mekanika kuantum, dapat digambarkan melalui diagram yang terbentuk dari garis dan simpul. Konsekuensi teori ini adalah kuantisasi  ruang dan waktu di besaran ruang Planck (sekitar 10−35 meter) dan waktu Planck (sekitar 10−43 detik). Pada besaran super maha kecil tersebut, dunia kita akan kehilangan kontinyuitasnya, karena segala sesuatu akan dikuantisasi alias di super-maha-kecilkan, termasuk gravitasi!

Mengapa Teori Gravitasi Kuantum diperlukan? Sebab ada beberapa fenomena alam, di mana Teori Relativitas sendirian tidak cukup menjelaskannya. Misalnya realitas adanya black hole (lubang hitam) atau bigbang (dentuman besar), pada awal alam semesta yang tampak oleh mata kita. Belum lagi bicara soal alam semesta yang tidak tampak, yang terpisah oleh besaran dimensi. Di situlah berbagai tingkatan alam baka itu eksis, sebagaimana lokasi sesungguhnya memori manusia. Sebab otak kita ini cuma semacam relay saja. Dia ini akan mati saat tubuh meninggal, tetapi memori alias ingatan kita tetap ada dalam keabadian. Selama ini mayoritas pendapat para fisikawan adalah bahwa ruang dan waktu itu menyatu halus dalam satu kesatuan. Sebaliknya Prof. Smolin menyatakan bahwa ruang dan waktu tidak menyatu dan keduanya masing-masing punya satuan sendiri-sendiri. Ibaratnya pasir dan air laut. Dengan asumsi ini Prof. Smolin mampu menyatukan Teori Relativitas dan Teori Mekanika Kuantum. Setidaknya masih di atas kertas.

STRING THEORY
Beberapa fisikawan lain pun telah mampu menyatukan kedua teori tersebut. Namun mereka menghasilkan teori baru lainnya, yang dikenal dengan sebutan String Theory. Teori ini merupakan kumpulan dari model-model fisikalis yang secara hipotesis berhubungan. Tujuannya adalah menjelaskan seluruh gaya fundamental hasil pengamatan di bidang fisika. Namun sampai saat ini String Theory belum diuji kebenarannya secara eksperimental. Sarana percepatan partikel di Meyrin (Swiss) milik organisasi Uni Eropa CERN (Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire) ditujukan untuk menemukan indikator pertama kebenaran String Theory, yaitu partikel super simetris. Kekurangan teori ini: dibutuhkan 11 dimensi agar dia berfungsi. Siapa yang mampu menguji 11 dimensi? Sebab ia akan punya jumlah solusi yang tak terhingga banyaknya.

Dengan demikian terjadi semacam perang teori berbasis kepercayaan yang seru di dunia para ilmuwan. Yang satu penganut String Theory, yang lain pendukung Teori Loop Quantum Gravity. Keduanya belum bisa dibuktikan secara eksperimental. Kita tinggal menunggu penemuan partikel-partikel atom di ruang dan waktu. Itulah saat kemenangan Teori Loop Quantum Gravity. Jika ini terjadi, maka pemenang Hadiah Nobel pasti sudah bisa ditentukan. Sebaliknya String Theory secara prinsip mustahil dapat dibuktikan.

Perlu pula disimak saran Prof. Robert Laughlin, fisikawan pemenang Nobel 1998 dan guru besar fisika di Standford University: marilah kita mengucapkan selamat jalan dari Rumus Semesta alias Theory of Everything. Sebab tidak semua fenomena alam dapat dijelaskan oleh rumus fundamental. Tidak semua Ke-Ilahi-an mampu kita cerna dengan otak manusia yang sangat terbatas ini. Sampai kapan pun manusia tidak akan sanggup memahami kecerdasan Sang Maha Pencipta!

Leave a reply

error: Content is protected !!