seri: APAKAH TAKDIR ITU SUDAH DITENTUKAN? (4)

seri: APAKAH TAKDIR ITU SUDAH DITENTUKAN? (4)

Bagian Keempat
Benarkah Manusia Tidak Punya Kebebasan Berkehendak?

Dukungan terhadap para fisikawan secara mengejutkan datang dari kalangan peneliti otak. Eksperimen mereka berhasil menyimpulkan sesuatu, yang bakal membuat kita merinding: manusia tidak memiliki kebebasan berkehendak! Kita merinding karena kebebasan berkehendak adalah salah satu dasar eksistensi manusia. Fakta bahwa kita tidak di bawah kendali insting adalah yang membedakan manusia dari hewan.

Namun, jika dunia ini telah ditentukan, maka tidak ada yang namanya kebebasan berkehendak. Jika masa depan sudah tertulis pasti, apa pun yang akan kita lakukan mengenai suatu rencana, apa pun hasilnya, semua itu sudah ditentukan. Benarkah demikian?

Ini merupakan perspektif melelahkan, yang dijadikan alasan oleh fisikawan terkemuka Sir Arthur Eddington guna menyatakan pendapatnya begini :”Apa makanya bagi saya hari ini untuk berhenti atau terus merokok, jika besok hukum fisika alam semesta telah menetapkan suatu konfigurasi materi, yang terdiri dari pipa, tembakau, dan asap, yang bersentuhan dengan mulut saya?”

Menariknya, kebanyakan orang hidup dengan pandangan dunia yang bertentangan, tanpa ada masalah. Mereka percaya bahwa kehidupan mereka sudah digariskan, dan juga, bahwa mereka setiap saat punya kebebasan berkehendak. Namun kedua hal yang bertentangan itu seharusnya tidak mungkin bisa bergandengan.

Ilmuwan Neurobiologi setidaknya sepakat, bahwa memang tidak ada yang namanya kebebasan berkehendak. Prof. Gerhardt Roth, peneliti otak di Universitas Bremen menyatakan pada tahun 2004, bahwa kebebasan berkehendak adalah sebuah ilusi. Itu berdasarkan hasil eksperimennya pada ratusan pasien, yang harus dibuka tempurung otak mereka karena alasan medis.

Apabila suatu area motorik tertentu di bagian otak dirangsang dengan elektroda, maka lengan pasien akan terangkat. Ketika ditanya alasan mengangkat tangan, hampir semua pasien menjawab bahwa gerakan itu yang dikehendaki mereka. Tetapi hal ini jelas tidak mungkin, karena gerakan itu akibat rangsangan dari luar. “ Apa yang kita alami sebagai kebebasan berkehendak, adalah alasan tentang perubahan keadaan, yang mau tidak mau toh harus dilakukan”, jelas Prof. Singer, Direktur Max-Planck Institut, Divisi Penelitian Otak.

Namun bagi para ilmuwan sendiri, konsekuensi soal tidak adanya kebebasan berkehendak tidak mudah diterima. Kendati meyakini tidak adanya kebebasan berkehendak, hampir tiap sore mereka pulang ke rumah dan minta tanggung jawab anak-anak, jika mereka berbuat yang tak sepatutnya. Sebab anak-anak itu dianggap mampu melakukan tindakan lain, yang lebih patut.

Mungkin ada suatu pintu kecil di tembok deterministik, melalui mana kebebasan berkehendak dapat menyelinap. Ini merupakan pemisalan yang berani, sebab sebuah kebebasan berkehendak sejati harus menghasilkan hal-hal yang tidak sejalan dengan hukum-hukum alam. Sesuatu yang mustahil karena manusia adalah bagian dari alam. Jika alam deterministik, maka harusnya manusia juga serupa. Manusia hanya mampu memiliki kebebasan berkehendak, jika dia sanggup menundukkan alam. Sampai saat ini peristiwa tersebut belum pernah terjadi.

Kemungkinan adanya suatu titik awal di suatu tempat, ditunjukkan oleh mekanika kuantum, yang menggambarkan semesta yang deterministik melalaui fungsi-fungsi gelombang. Namun ada satu peristiwa aneh yang masih tidak bisa dipahami: runtuhnya fungsi gelombang. Peristiwa ini terjadinya pada saat pengukuran sebuah partikel guna memastikan lokasinya. Partikel dikatakan mempunyai kemungkinan-kemungkinan lokasi tertentu pada ruang yang relatif luas. Saat pengukuran itulah terjadi runtuhnya seluruh kemungkinan lokasi. Hanya ada satu-satunya kebenaran yang tersisa: lokasi tepat beradanya partikel.

Melalui pengukuran kita dapat memastikan lokasi partikel. Namun di mana tepatnya lokasi, tidak dapat diketahui sebelumnya. Sebab jika eksperimen itu diulangi dengan syarat-syarat yang tepat sama, maka hasilnya setiap kali akan berlainan. Setelah ribuan eksperimen akan diperoleh distribusi probabilitas kemungkinan semua lokasi, yang diperoleh dari fungsi gelombang.

Pada saat pengukuran terjadi sesuatu yang tidak deterministik – dan ini bisa menjadi celah kecil pada kebebasan berkehendak untuk masuk ke alam kehidupan kita. Tidak ada bukti untuk yang satu ini, sebaliknya juga tidak ada bukti bagi hal sebaliknya, sebab belum ada yang meneliti kondisi kuantum dalam otak manusia hidup.

Tidak ada satu pun makhluk, kecuali Sang Pencipta sendiri, yang mampu melihat secara pasti jalan kehidupan seseorang di masa depan. Hanya orang itu sendiri yang bisa, sebab setiap dari kita telah memastikan berbagai kemungkinan nasib masa lalu, masa kini, dan masa depan. Setiap atom berjalan sesuai polanya sendiri. Pola jalan searah ini terjadi banyak kali dalam setiap kehidupan seseorang. Sekali kita sudah menentukan arah, tidak ada jalan kembali. Kadang-kadang memang ada persimpangan jalan yang akan kita lalui. Kita pula yang memastikan jalan yang hendak dilewati. Tidak ada arah untuk kembali. Tidak ada cara balik ke masa lampau. Karena itu adalah penting sekali untuk mencermati langkah kita, langkah setiap orang, saat sekarang.

Banyak hal yang sudah dirancang jauh sebelum setiap kehidupan sekarang, ternyata tidak jadi dilalui, karena melewati jalan lain. Seandainya aku kawin dengan dia, pasti nasibku tidak seperti sekarang. Atau, seandainya dulu aku memilih pekerjaan itu, pasti aku sudah jadi direktur. Semua kemungkinan jalan-jalan utama dan alternatif di sekolah kehidupan sudah terpola dan terstruktur sebelum sang atom (atau kita) eksis di dunia ini. Namun apa pun jalan utama atau alternatif yang tersedia, semuanya sudah deterministik atau telah dikalkulasi alias dirancang sendiri oleh setiap orang.

Satu-satunya kepastian adalah berbagai jalan sosial dan lamanya usia orang. Bagai jalan menuju Roma, yang pasti adalah tempat kita berada sekarang dan kota Roma itu sendiri. Tetapi lewat mana kita menuju ke Roma, itulah kebebasan berkehendak setiap insan, yang merupakan anugerah Sang Pencipta. Jalan yang akan dilewati merupakan akibat dari perbuatan setiap kita sebelumnya. Setiap langkah menentukan langkah berikutnya, kadang-kadang peristiwa kecil pun bisa menjadi pemicu nasib.

Hukum sebab-akibat, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari berbagai peristiwa di alam raya, pun senantiasa mengiringi jalan hidup seseorang. Bantuan dari sahabat atau teman, misalnya, tidak terjadi secara kebetulan. Menang lotere, tertimpa musibah, atau dapat hadiah nomplok, dan lainnya, bukan terjadi secara kebetulan!

Beberapa dekade mendatang, demikian harapan para pakar, berbantuan komputer kuantum kita diandaikan mampu menghitung agak jauh ke masa depan. Namun perubahan hanya satu atom dikonstelasi keluaran dapat mengubah kondisi akhir. Ini menyebabkan kita tidak mungkin bisa memastikan masa depan secara pasti! Dengan kalimat lain: kepak seekor kupu-kupu di Surabaya dapat menyebabkan terjadinya puting-beliung di suatu tempat pada masa depan!

Dalam sebuah dunia yang deterministik, masa depan sudah ditentukan. Takdir tidak bisa diubah, namun sebagaimana ada banyak jalan menuju Roma, nasib itu berbagai pilihan jalan (searah) dalam koridor kebebasan berkehendak yang akan kita lewati.

Sementara manusia menjalani sekolah kehidupan ini dengan prinsip easy going. Namun ada pula yang melakoninya secara rinci. Kita ada di dunia ini untuk belajar, mengumpulkan pengertian dan/atau pencerahan. Apakah nanti bakal dimasukkan dalam suatu harddisk raksasa, bersama kumpulan pencerahan manusia lain? Hanya Sang Pencipta yang tahu. Demikian pula jawaban atas pertanyaan: apa makna atau gunanya semua itu? Wallahualam bissawab – hanya Dia yang tahu.

Alam semesta ini berusia sekitar 14,5 miliar tahun, sejak big bang (dentuman besar), plus minus sekian miliar tahun, demikian hasil riset para astronom dan ilmuwan lain. Bumi kita ini umurnya 4,5 miliar tahun. Manusia sendiri baru ada sekitar 100 ribu tahun silam. Di mana kita sebelumnya? Di mana kita saat-saat awal penciptaan semesta, miliaran tahun silam? Di mana kita saat sebelum sang kala ada? Sekali lagi, Wallahualam bissawab – hanya Dia yang tahu.

Tampaknya kita harus menerima, bahwa masa depan kita sudah deterministik alias ditentukan, dan kita punya probabilitas kemungkinan untuk mengetahui prakiraan alias prediksi kecil sebelumnya. Hal-hal aneh terakumulasi dari sana: seorang pembunuh dapat beralasan, perbuatannya telah terukir pasti sejak dunia ini ada. Hakim pun tidak kehilangan akal, vonisnya juga telah dipastikan sama lamanya.

Pertanyaan (atau kegalauan awal?) terakhir. Apakah kita lantas jatuh dalam suasana fatalisme? Kita dapat menjalani hidup seperti biasanya dan berpura-pura, seolah pilihan kita punya pengaruh. Padahal tidak?

Atau kita lakoni saja setiap babak drama kehidupan dengan kerdipan mata? Memahami, bahwa toh segala sesuatu sudah ditentukan. Kita tidak usah terlalu menganggap penting sekali setiap peristiwa yang terjadi. Kita tidak perlu sangat serius sekali menanggapi kejadian apa pun. Ini bisa menjadi suatu hadiah nan indah dari determinisme, yaitu pasrah dan ikhlas. (tamat)

Leave a reply

error: Content is protected !!