PRIA IDAMAN (bagian pertama)

PRIA IDAMAN (bagian pertama)

(SEBUAH KISAH NYATA DARI FINLANDIA, NAMA-NAMA PELAKU BUKANLAH NAMA SEBENARNYA)
Syahdan, 3 tahun silam, usia Paula baru menginjak 13 tahun pada saat ia mulai berkenalan dengan seorang pemuda, sebut saja Berry, di sebuah chat-room, semacam tempat pertemuan online pada jejaring sosial tertentu. Paula adalah gadis kecil yang cantik manis, menetap di sebuah kota kecil di Finlandia bagian utara. Negara asal Nokia yang wilayahnya dekat kutub utara ini dikenal sebagai negara dengan jumlah danau terbanyak di dunia. Paula adalah siswi cerdas, hidup bahagia bersama kedua ortunya. Paula punya hobi melukis dengan cat minyak. Chat-room yang menjadi ajang tukar pengalaman itu pun khusus untuk mereka yang punya hobi sama, melukis. Di situlah Paula dan Berry mulai berkenalan.

Tematik pembicaraan kedua insan belia itu tentunya ya seputar lukisan dan lukisan. Berry mendemokan hasil karyanya, sekaligus menjadi semacam motivator bagi pengunjung lainnya. Ruang chating itu sekaligus menjadi tempat keduanya menumpahkan isi hati masing-masing. Berry menulis, betapa ia sejak kecil sidah kehilangan ibu kandung dan harus berdikari setengah mati agar tetap dapat hidup. Sekarang ia berusia 23 tahun, hidup sendirian di kota London, Inggris. Dan bekerja sebagai karyawan sebuah bank.

Paula memuji Berry atas segala perjuangan dan pahit-getir kehidupan pemuda itu. Berry mengaku terus-terang jika dia sering kesepian. Ia menulis tentang hari Minggu yang senyap, dalam mana ia mendambakan laut, hutan, dan danau. Lalu dia menghabiskan waktunya dengan melihat-lihat benda purbakala di museum. Sore harinya ia minum teh di sebuah café, menghabiskan senja. Sendirian.

Paula dan Berry saling menulis email hampir setiap hari. Berry tidak pernah reaktif. Seks bukanlah tema dalam email keduanya, tetapi cinta. Yang diam-diam tumbuh dan tumbuh. Berry mengaku terus terang jika ia pernah patah hati. Lukanya lumayan dalam. Untunglah ia punya seorang saudara tiri perempuan yang menjadi penghibur di kala nestapa menerpa. Paula merasa iba membaca pengakuan Berry. Spontan ia lalu mengirimkan foto dirinya. Seorang gadis cantik, mungil dan begitu lugu. Berry membalas dengan kiriman foto pula. Paula terperangah. Berry demikian tampan dan gagah. Mirip foto model di sebuah majalah mode terkenal.

Paula juga menulis email pada teman-teman Berry. Beberapa mengaku pernah mengunjungi Berry di London, sebuah kota yang indah. Banyak bangunan kuno dan bersejarah yang terpelihara dengan asri.

Tiga tahun berlalu.

Ribuan email telah saling terkirim antar keduanya. Pengakuan-pengakuan kecil dan puluhan perasaan besar terselip dalam surat-surat mereka. Akhirnya Paula menulis, bahwa ia ingin mengunjungi Berry di kota London. Beberapa saat lagi akan dimulai liburan musim panas di Finlandia. Sekolah-sekolah libur selama 2 bulan. Waktu yang amat cukup untuk mengunjungi Berry di London. Paula telah menabung selama bertahun-tahun, cukup untuk pergi ke London. Ortunya sudah menyetujui rencana anak gadis mereka.

Namun reaksi Berry ternyata lain. Ia tidak ingin Paula datang ke London. Paula terperanjat. Paula tidak mengerti. Ada apa gerangan? Berry benar-benar tidak ingin Paula datang mengunjunginya. Berhari-hari Paula gelisah. Mengapa ia tak boleh datang ke London? Mengapa? Ada apa?

Sekonyong-konyong tibalah berita itu. Lewat email, seperti biasanya. Berry menulis bahwa ia menderita gangguan tumor di bagian otak. Kemungkinan besar tidak bisa sembuh. Hari berikutnya ia harus menjalani operasi bedah otak.

Paula kaget bukan alang-kepalang. Operasi tumor? Di mana? Di rumah sakit apa? Di kota mana? Apakah di London? London begitu luas. Paula bertanya-tanya dengan gelisah. Satu hari berlalu tanpa ada berita dari Berry. Dua hari. Tiga hari. Tiba-tiba pada hari ke-4 datanglah sebuah email dari seorang teman Berry. Beritanya singkat: Berry sudah meninggal.

(bersambung)

Leave a reply

error: Content is protected !!