Mengapa Orang Kaya Semakin Kaya

Mengapa Orang Kaya Semakin Kaya

..dan si Miskin Makin Miskin Sehingga Perlu Bantuan Negara (teori distribusi kekayaan atau inilah peran politik)

Kesenjangan antara kaya dan miskin semakin lebar, tidak hanya di AS, tetapi juga di Indonesia. Padahal itulah proses alam yang sebenarnya, dan politik sehebat apa pun bakal sulit membelokkannya. Karena ibaratnya melawan alam. Begitu di sebuah negara industri diadakan pemilihan umum, maka tematik sentralnya cuma satu: kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Ketidakadilan luar biasa antara apa yang bisa dibeli oleh para orang kaya dibandingkan dengan mayoritas rakyat miskin. Dan para politisi selalu berjanji bakal melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Namun pada akhirnya kesenjangan itu justru kian melebar.  Sebab apa? Sebab politik tidak bisa mengubah apa-apa yang telah dibuktikan sebaliknya oleh matematik.

IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) oleh Fisikawan
Fisikawan Sher Ren Tee dari Singapura menjelaskannya berdasarkan tanya-jawab dengan komunitas Quora. Titik awalnya adalah pemikiran berikut: seberapa kaya kita kalau pada suatu masyarakat uang dibagikan secara acak? Jika Anda berpikir, semua orang akan memiliki jumlah uang yang sama, ini akan salah besar. Kemungkinannya sangatlah kecil (bahkan bisa diabaikan) bahwa setiap orang akan  punya jumlah duit yang sama. Kemungkinan besar sekali kalau distribusinya eksponensial. Artinya, akan ada orang yang mendapat uang banyak sekali. Akan ada pula yang memperoleh sangat sedikit.

Contoh: jika kemungkinan Anda memiliki Rp 10 juta ada pada 10%. Kemungkinan Anda untuk mendapat 2 kali lipatnya (Rp 20 juta), adalah 10% dari 10%, yaitu 1%.

Lebih jelasnya begini: distribusi acak tersebut menghasilkan bahwa sejumlah 2% masyarakat orang-orang terkaya memiliki 10% kekayaan total dan sejumlah 40% masyarakat orang-orang paling miskin akan saling berebut 10% kekayaan total.

Kedengarannya tidak adil, bukan? Matematika itu kerap sama tidak adilnya seperti guru matematika kita saat di sekolah dulu.

Pembagian kekayaan yang nyata di muka bumi terlihat mirip seperti kurva yang dihitung oleh Fisikawan Sher Ren Tee. Bahkan kenyataannya semakin eksponensial (kesenjangan antara orang terkaya dan termiskin kian lebar). Alasannya adalah bahwa kita sedang berbicara tentang manusia dan bukan tentang angka – dan mereka bekerja untuk take-home-pay mereka.

Contoh lainnya. Ibaratkan Anda memiliki sebuah pabrik mobil senilai Rp 500 miliar. Hari ini tiba-tiba Anda mewarisi dari paman kaya Anda sejumlah Rp 500 miliar lagi. Apa yang selanjutnya terjadi dengan uang Anda? Lipat dua bukan? Anda bisa membuat pabrik baru dengan uang warisan itu. Maka pendapatan Anda sebagai orang kaya akan meningkat jauh lebih cepat ketimbang manusia lain yang jauh lebih miskin. Jurangnya akan kian lebar!

Bagaimana Negara Bisa Membantu (Lewat Politik)
Bahwa orang-orang kaya akan menjadi super kaya dan orang-orang miskin bakal menjadi super-miskin, ini bukan karena kerja keras atau keberuntungan, namun cuma sebuah konstanta alami dari kapitalisme. Supaya terlihat ganyeng, maka kita ngomongnya (atau penghiburan umum) dengan bicara begini: bahwa rata-rata orang-orang miskin itu bekerja sama kerasnya seperti orang-orang kaya. Bahwa orang itu kaya atau miskin itu punya keberuntungan dan/atau kesialan yang sama.

Sebetulnya politik dapat melakukan intervensi agar kesenjangan antara si kaya dan si miskin tidak semakin melebar. Politik dapat dipakai supaya jurang antara yang kaya dan yang miskin tidak kian dalam. Ini sudah dilakukan di Australia. Kurva pendapatan masyarakat di Australia misalnya, lebih datar dan bagus daripada di AS.

Pemerintah Australia sudah mengeluarkan Undang-undang yang mengatur Upah Minimum Negara sejak tahun 1907. Sekarang UMN di Australia merupakan yang tertinggi di dunia, yaitu 12,86 EURO per jam (sekitar Rp 190.000). Per jam!

Pemerintah Australia dengan demikian secara aktiv membuat uang banjir ke bawah. Artinya: orang super kaya masih tetap super kaya, tetapi mereka yang super miskin bakal dikatrol naik ke atas. Indonesia perlu meniru tetangganya ini, tidak perlu studi banding ke Eropa yang jauh itu.

 

Leave a reply

error: Content is protected !!