Rekan Kerja lebih penting daripada Gaji Tinggi!

Rekan Kerja lebih penting daripada Gaji Tinggi!

Ada tiga hal yang lebih penting daripada gaji, yaitu SUASANA KERJA, PERUSAHAAN YANG KOKOH, dan FLEKSIBILITAS  WAKTU KERJA. Itulah hasil riset Universitas Ilmenau yang melakukan survei pada 300 mahasiswa semester akhir. Ketua peneliti Prof. Norbert Bach juga menyatakan, bahwa hanya 18% responden yang cenderung memilih perusahaan dengan lebih dari 250 karyawan.

SEBERAPA BESAR PERASAAN YANG BOLEH PUBLIK DI KANTOR?
Jika wanita menampakkan rasa marah di tempat kerja, maka mereka dicap sebagai karyawan yang tidak kompeten. Sebaliknya jika pria yang melakukannya, maka hal tersebut dianggap sebagai kekuatan. Ini merupakan hasil studi dari Universitas Yale di Boston. Karyawan wanita yang marah akan kehilangan statusnya, tak peduli posisinya, jelas ketua riset Victoria Brescoll, seperti yang dilansir di majalah Psychological Science.

Kalau begitu, apa sebaiknya karyawan wanita mengumbar senyum ramah, kendati mereka sedang dilanda hawa amarah? Menurut Psikolog Dr.Elmar Basse, ungkapan emosi sangat penting di bidang industri kreatif macam periklanan, musik, atau bisnis entertainment. Namun jika perusahaan bergerak di bidang yang menangani angka, data, atau fakta, maka luapan emosi dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Senyum yang terus-menerus memang baik untuk peningkatan karir, namun bisa membuat sakit. Jika perasaan senantiasa ditekan, maka orang bisa mengalami gangguan psikis. Frustasi mendalam dapat membuat seseorang suatu saat burnout.

Marah dalam pekerjaan, apa yang tidak boleh dilakukan?
Perasaan marah sebaiknya tidak secara total diluapkan . Yang penting adalah membuat sedikit lubang keluaran untuk mendorong amarah ini sediki demi sedikit. Misalnya, kita dapat saling curhat dengan teman dekat di tempat kerja.

Bagaimana sebaiknya mengungkapkan kritik di tempat kerja?
Memakai formulasi saya atau aku. Misalnya begini “Aku kira itu tidak baik, jika kita terus melakukannya, sebab ini bakal membuat muncul problem baru. Sebaiknya kita akan membuatnya lebih baik, yaitu ..” Kalimat seperti itu, yang berorientasi pada solusi, dapat digandeng dengan ungkapan emosional, sebab ia punya muatan obyektif.

Bagaimana cara meluapkan emosi dalam pekerjaan?
Adalah amat menentukan, bagaimana dan dalam kaitan mana luapan emosi diungkapkan. Gugup sebelum berbicara adalah manusiawi. Audiens menunggu sampai kita bisa menguasai kendali diri. Pidato juga dapat dimenangkan, jika ia diucapkan dengan perasaan, selama fakta di dalamnya tetap dipegang. Begitu pula dengan air mata, punya tempatnya sendiri. Yang kurang bisa ditolerir oleh teman kerja adalah ledakan emosi yang berapi-api.

Kadangkala kita perlu membuang magma amarah dalam diri. Orang Jepang biasanya membuat guling yang digambari “sang musuh”, biasanya foto bos. Lalu guling itu digantung dan dipukuli. Seandainya ini belum bisa membantu meredakan sang amarah, maka kita perlu cuti satu hari ke tempat yang kita sukai. Kalau sampai langkah ini pun tidak membantu, maka kita perlu nasihat psikolog dan/atau psikiater!

Leave a reply

error: Content is protected !!