Menyingkap Rahasia Kebahagiaan

Menyingkap Rahasia Kebahagiaan

Adalah Prof. Manfred Spitzer, penyandang 3 gelar doktor untuk bidang kedokteran, psikologi, dan filsafat, suhunya pendidikan dunia internasional, yang sejak tahun 2010 membuat guncang teori pendidikan. Risetnya antara lain untuk menjawab berbagai pertanyaan seperti: sejauh mana uang bisa membuat manusia bahagia? Bagaimana berkembangnya kepuasan hidup manusia berdasarkan sikon ekonomi? Siapa yang lebih bahagia: seorang manusia yang lumpuh akibat kecelakaan atau seseorang yang memenangkan undian utama? Jawabannya akan mencengangkan orang cerdik pandai di muka bumi ini.

Prof. Dr.Dr.Dr. Manfred Spitzer, demikian gelar lengkap beliau, adalah Direktur Bidang Psikiater Universitas Ulm. Ia pernah kuliah di 3 fakultas sekaligus: kedokteran, filsafat, dan psikologi. Ketiganya ditekuni bersamaan sampai mendapat 3 gelar doktor. Prof. Spitzer pernah bekerja di Universitas Heidelberg sebagai dokter kepala, dosen di Harvard University, dan mengepalai riset di Institute for Cognitive and Decision Sciences pada University of Oregon. Ia juga merupakan profesor Jerman paling muda usia pada bidang psikiater. Saat ini Prof. Spitzer merupakan peneliti otak Jerman yang paling terkenal dan terkemuka di dunia. Ratusan buku dan audio-book Prof. Spitzer telah beredar luas dalam berbagai bahasa selain Jerman seperti Inggris, Spanyol, Polandia, dan Portugis.

Berbagai riset yang dilakukan Prof. Spitzer menjungkir-balikkan suhu-suhu ekonom ternama. Salah satunya adalah Adam Smith. Penggagas terkenal ekonomi kerakyatan klasik ini senantiasa berangkat dari apa yang disebut sebagai Homo Economicus, seorang egois yang rasional. Demikian pula yang bakal terjadi dalam seuatu komunitas rakyat. Setiap orang akan pertama-tama memikirkan (kesejahteraan) dirinya sendiri. Ini salah, kata Prof. Spitzer. Homo Economicus itu tidak ada. Sebagai bukti ilmiahnya, Prof Spitzer membuat suatu riset yang terkenal dengan istilah Permainan Ultimatum.

Dua Macam Kebahagiaan
Bahagia itu ada 2 macam. Bahagia tatkala mendapat hadiah utama mingguan BCA atau ketika terhindar dari celaka fatal (tepat 5 meter setelah mobil kita lewat, sebuah bukit longsor menutup jalan di belakang). Bahagia jenis ini dalam bahasa Inggrisnya disebut “luck”. Bahagia jenis ke-2 adalah rasa kegembiraan dan kepuasan yang dalam. Bahasa Inggrisnya “happiness”.

Bahagia itu adalah dapat bergembira tatkala memandang mekarnya bunga mawar, ujar Prof. Spitzer. Kebahagiaan itu acapkali merupakan hal-hal kecil dan mini dalam kehidupan setiap manusia. Lima tahun silam orang masih belum menyadari, betapa erat proses belajar dan bahagia itu berdampingan. Kini jelas sudah, sistem bahagia manusia bukanlah sistem kebahagiaan, melainkan sistem belajar! Bahagia itu merupakan produk sampingan. Bahagia itu hadiah bagi pengalaman yang baru dan baik. Karena itu kita tidak lagi bergairah jika kita sudah tahu untuk apa sesuatu itu ada. Kita mengejar kebahagiaan itu sebetulnya merupakan bagian dari proses belajar. Fakta ini tidak dipahami oleh 99,9% perusahaan di dunia, terlihat dari banyaknya karyawan yang menderita burn-out. Sebagian menjadi sedikit edan atau gila tanpa disadari. Fakta ini juga tidak dipahami oleh sekolah dan perguruan tinggi. Padahal dari mereka inilah bermula istilah “belajar seumur hidup”.

Salah: Penggunaan Komputer di Sekolah Dasar
Dewasa ini komputer sudah merambah dunia pendidikan. Dengan bangga para pendidik mendemokan penggunaan komputer di sekolah dasar. Ide dasarnya: mengajar anak sejak dini supaya mengenal dunia high-tech dan online terhubung dengan internet via klik sebuah mouse. Ini keliru dan tidak bakal berfungsi seperti yang diharapkan oleh para pendidik senior, kata Prof. Spitzer. Hanya melalui sentuhan nyata anak-anak dapat melajar memahami dunia. Bukan secara maya di layar monitor. Sebagai buktinya Prof. Spitzer memberikan hasil studi dari apa yang dikenal dengan eksperimen 64 obyek fantasi.

Apa sih yang membuat seseorang itu bahagia? Tak ada yang tahu. Tapi satu sudah pasti: bahagia dan belajar itu sangat erat berdampingan. Jika kita memberitahu seseorang secara spontan, dia akan kita beri Rp 10.000, maka daerah tertentu di otaknya akan dibanjiri dengan zat Endorphin, substansi pembangkit bahagia. Orang itu akan sangat gembira dan bahagia. Tapi jika ia kemudian benar-benar mendapat Rp 10.000 maka otak tidak lagi bereaksi seperti dulu. Otak sudah tahu bahwa ia akan mendapat Rp 10.000. Ada proses belajar untuk mengetahui akan ada hadiah, maka ini menyebabkan munculnya rasa bahagia. Karena itu wilayah otak aktif bukanlah sentral nafsu, kecanduan, atau bahagia, melainkan percepatan belajar. Sebab itu tidak ada bahagia yang terus-menerus. Tapi bahagia itu dimungkinkan muncul lagi dan terjadi suatu saat. Kecepatan menghitung otak manusia itu mengagumkan: 11 juta bps (bit per second). Otak itu bekerja secara bawah sadar. Karena itu keputusan intuitif sering lebih baik ketimbang pertimbangan rasional. Pemain di bursa saham akan menang jika mereka mendasari keputusannya pada suara hati pertama.

Narkoba dan Bahagia
Mengkonsumsi narkoba itu sama dengan mengobati rasa kerinduan terhadap rasa bahagia. Dalam hal ini suatu zat, Dopamin namanya, akan memenuhi wilayah otak tertentu. Pecandu narkoba mensimulasi sentral kebahagiaan di otak mereka dengan tumpahan Dopamin. Keadaannya sama persis waktu seorang pengemis dengan tidak disangka akan diberi hadiah Rp 10 ribu. Reaksi otak yang sama ini juga terjadi tatkala kita mendapat pujian yang tidak terduga sebelumnya. Atau mendapat sapaan yang sangat sopan dan nyaman dari seseorang. Kick yang terjadi sama dengan saat pecandu narkoba mengkonsumsi kokain. Hasil riset Prof. Spitzer ini mulai digunakan oleh beberapa perusahaan kelas dunia untuk memotivasi para karyawannya. Ia dapat digunakan praktis untuk divisi marketing, pelayanan kastemer, dan personal.

Kita dapat membangkitkan rasa bahagia melalui musik. Ini akan mengaktifkan
nucleus accumbens dan menenangkan inti Mandel, organ stres manusia. Timbul kegembiraan dan rasa khawatir akan lenyap. Aktifitas saat belajar dan jogging juga merupakan faktor yang bisa membuat orang bahagia. Sistem bahagia merupakan faktor penting dalam evolusi. Ia merangsang terjadinya sikap belajar dan sosial. Manusia, beda dengan hewan, punya kemampuan untuk merencanakan kebahagiannya. Tanpa sistem kebahagiaan itu kemungkinan besar tidak terjadi pengembangan budaya dan tak ada invoasi.

Akhirnya
Pada paragraf pertama Anda tertarik untuk mengetahui sejauh mana uang bisa membuat manusia bahagia? Bagaimana berkembangnya kepuasan hidup manusia berdasarkan sikon ekonomi? Siapa yang lebih bahagia: seorang manusia yang lumpuh akibat kecelakaan atau seseorang yang memenangkan undian utama? Jawabannya lumayan panjang karena dilengkapi dengan bukti-bukti ilmiah hasil studi dan penelitian ribuan responden di berbagai belahan bumi. Riset Prof. Spitzer dan tim. Silahkan mencari dan menemukan berbagai karya Prof. Manfred Spitzer di, misalnya, amazon.com. Tersedia dalam wujud buku dan/atau audio-book. Proses mencari dan menemukan itu ibaratnya akan menyebabkan zat Dopamin tumpah di otak kita. Inilah kebahagiaan yang akan semakin membesar, sampai kita mendapat buku dan audio-book yang kita cari.

Leave a reply

error: Content is protected !!